Part I : Nenek Keluargaku Satu-satunya


Nenek Keluarga Ku Satu-satunya



            Tik Tok Tik Tok . . .
            Suara jam mulai terdengar di telingaku, aku mulai berfikir kalau aku masih hidup di dunia yang kejam ini, perlahan aku ingin mencoba menggerakkan tubuhku yang sudah tidak terasa lagi, tetapi sakit yang luar biasa ada dikepalaku, sakit sangat sakit… sakit yang paling mengerikan yang pernah kualami, aku mencoba untuk membuka mataku, ku buka secara perlahan . . . perlahan . . . perlahan . . . cahayapun menyambar menyerang sedikit kornea mataku dan terasa pedih dan menyilaukan. Aku tidak tau berapa lama aku berbaring di tempat tidur yang bau ini, hidungku mulai merasakan bau.
            Terdengar suara seorang wanita yang menangis tersedu-sedu, seprtinya dia tidak jauh dari tempat tidurku, wanita itu sepertinya merasakan kepedihan,dan kesedihan hingga menagis seperti itu. Ingin ku melihat wajah wanita itu. Terpintas dalam kepalaku nenek, nenek pasti sedih mekihat aku sakit lemah. Aghh…. Nenek pasti sangat sedih, nenek juga tidak punya uang untuk biaya rumah sakit ini, sakit yang muncul dalam diriku berubah menjadi sakit yang lain, seperti menghujam di dalam dada kusakit yang tidak bisa tertahankan, sakittt…. Sakitt… sedihhh… aku orang yang paling menyedihkan di dunia ini, nenk ku yang sudah renta pasti sangat kesusahan saat ini, sedangkan aku berbaring di sini. Ingin aku menjerit minta maaf memeluknya dan minta maaf atas semua yang sudah akulakukan.
            Air mata berkeluaran dari mataku yang tak dapat ku buka, air mata yang terus mengalir tak dapat ku bending lagi, sakit yang terus menyucuk jantungku membuat aku sesak untuk bernafas di dalam baringku. Aku tidak sadarkan diri lagi, hanya suara monitor yang terdengar di telingaku, suara tit… tit… tit… yang terus semakin cepat, dan suara terakhir yang ku dengar adalah suara wanita yang menangis tadi melangkah ke arahku dan pergi memanggil dokter.
“ ada apa mbak?” panggil dokter melihat seorang wanita berlari tergesa-gesa ke arah pos perawat, untung saja dokter jaga malam itu tidak jauh dari ruangan ku.
“dokter ada yang bermasalah…  ah..  ah…  bunyi monitornya semakin cepat spertinya… a… aa…” jawab wanita yang menangis tadi sambil berlari, dan tidak tau menjelaskan apa pada dokter dia hanya melihat monitor yang semakin berisik.
“Sus bangun ayo kita lihat pasien… cepat ambil Defiblator cepat” dokter itu tampak cemas melihat kondisiku saat itu dokter meletakkan kedua tangannya di dadaku dan melukan CPR terus menerus dan menyuruh suster yang di bangunkannya untuk mengambil defiblator alat yang digunakan untuk memicu detak jantung menjadi normal.
“Ini Dok Defiblatornya” setelah beberapa menit kemudian perawat kembali membawa alat defiblator itu.
“Kenapa lama sekali hayo buruan 50 Joul” sahut dokter itu yang terburu-buru membuka bajuku, dan mengambil alat seperti setrika kecil yang akan di tempelkan ke dadaku yang sudah semakin kurus akibat koma seminggu di rawat di RS. Dokter itu mulai mengoles cairan ke alat itu.
“Maaf dok, 50 Joul Siap…” Suster itu tak bisa berkata banyak, suster yang ngos… ngosan… berkonsentrasi menyalalakan dan mengatur alat defiblator, suster mengambil defiblator dari ruangan ICU dan harus membangunkan para perawat di sana, entah kenapa saat itu tidak ada defiblator di pos perawat bangsal hingga suster membutuhkan waktu yang lama untuk mengambil alatnya.
“Shock” tidak ada perubahan dari detak jantung “100 Jaul” dokter itu menaikkan sengatan listrik dari defiblator itu.
“100 Joul Siap…”
“Shock…” tidak ada perubahan sama sekali setelah listrik di tingkatkan, dokter itu sudah tidak berfikir panjang lagi sepertinya dia sudah menyerah dan melakukan yang terakhir “400 Joul” hiimbauan dokter itu lagi pada susuter untuk meningkatkan tekanan listrik defiblator, suasana malam yang sepi berubah seketika menjadi malamyang mencekam, para pasien yang telah tidurpun bangun melihatku.
“Dok bahaya terlau tinggi” kilah dari suster itu.
“Cepat lakuakan”
“400 Joul Siap..”
“Shock…” dokter melepaskan alat itu dan sudah terlihat pasrah, tetapi
            Tit… Tit… Tit… detak jantung ku kembali normal.
(Lanjutan Part Wanita Itu)
Melihat kondisiku yang cukupmemprihatinkan seharusnya dirawat di ICU karena tidak punya biaya akupun dipindahkan ke bangsal.  Nenek adalah keluarga aku satu-satunya yang membesarkanku sampai saat ini, ayah dan ibuku meninggal dunia saat kecelakaan tepat di depanku saat hujan dan gemuruh yang membuat ku trauma saat hujan, neneklah orang yang selalu ada di dekatku memelukku saat ku takut, memberiku semangat, bercanda. Nenek bahkan rela menghabiskan uangnya membeli semua kebutuhan ku tanpa memikirkan kubutuhannya sendiri seperti baju bagus untukku, sepatu, biaya sekolah, handphone, semua diabeli tanpa meberitahuku. Kadang aku merasa seperti benalu untuknya. Aku sangat sayang nenek.
Nenek sanggup tidak makan demi aku, ecapkali dia berbohong dan bekata sudah makan di depanku, tubuhnya yang renta sering kali sakit, saat perut nenek sakit karena tidak makan dia bersembunyi dan merintih kesakitan, aku tak tau berbuat apa, saat aku lihat dia sembunyi kesakitan karena lapar.
“nenek sakit?” aku hampiri nenek kala sedang sakit di belakng rumah, aku sangat khawatir. Namun saat aku bertanya nenek berpura-bura tidak kesakitan dan berlari ke kamar mandi.
“nenek tidak kenapa-kenapa, perempuan seprti ini lah nak” nenek menggambarkan kalau dia lagi haid padahal aku tau bukan karena itu, nenek berpura-pura tegar di depanku, dan pergi ke kamar mandi, aku tahu nenek yang berumur hampir 50 tahun sudah pasti tidak haid lagi, nenek hanya mencoba menipuku, agar aku tidak khawatir.
Aku bukan laki-laki yang cengeng, namun melihat keadaan nenek seperti itu membuat aku sedih dan tak bisa membendung air mataku lagi, nenek satu-satunya keluargaku, aku takut nenek sakit, aku takut nenek sedih, aku tidak mau nenek khawatir kalau aku tidak makan.
kerap kali saat masakan nenek sedikit, aku dengan sengaja memakan sedikit pula entah itu saat sarapan, makan siang, maupun makan malam agar nenek juga makan, walau memang Nenek baklan marah, dan mengeluarkan triknya.
“cucu nenek sakit, kok makannya sedikit” goda nenek kalau aku makan sedikit.
“Makan yang banyak nak, kapan kamu besarnya kalau makan sedikit, kalau sixma udah cepat besar bisa bantu Nenek cari uang tuk makan” hahaha… ini adalah trik nenek agar aku makan lebih banyak, beberapa kali aku terpengaruh dengan kata-kata nenek.
Nenek selalu menyajikan makan enak buatku, walau kadang kala kami makan-makanan khayalan, hahaha…. Iya makanan khayalan…. khayalan yang enak mengkhayalkan nasi itu daging, mengkhayalkan nasi itu ayam, mengkhayalkan nasi itu makanan termahal yang ada di dunia ini, karena saat uang kami tidak ada kami hanya makan nasi tambah garam dengan air sebagai pelicin.
Kata Nenek “Senikmat-nikmat apapun makananmu jauh lebih nikmat ketika makan bersama keluargamu” imbuh nenek padaku, karena itu sepulang sekolah nenek menungguku pulang untuk makan bersama.
 aku tidak pernah membayangkan sesuatu yang lebih dalam hidup ini, aku hanya ingin membahagiakan nenek, selalu bersamanya, dan tidak membuatnya khawatir seumur hidupnya. Nenek adalah koki terhebat yang pernah kutemui, masakannya penuh dengan kasih sayang. Nenek itu ibu dan ayahku, nenek adalah pahlawanku, pantang mudndur menesehatiku, eh… kayak lagu wali.
Hal yang paling menyenangkan dalam hidupku adalah saat penerimaan raport di sekolah, aku selalu dapat juara kelas, saat paling bahagia melihat nenek seenyum bebas dan lepas melihatku, dan menyombongkan cucunya yang pintar. Aku tidak pernah belajar lebih selain di sekolah nenek menyuruhku untuk les di luar jam sekolah namun aku tidak mau membuat nenek mengeluarkan uang untuk biaya les, jadi akuikut cari botol-botol bekas untuk di jual bersama nenek, iya… kami… maksud aku Nenek dan aku adalah pemulung. Pemulung yang bahagia mengais rejeki menyusuri parit-parit, got-got, jalanan, serta tong sampah yang kotor dari rumah ke rumah untuk di jual beli makan.
Rezeki yang kami dapatkan cukup aneh buatku, ketika itu umurku masih 5 tahun, saat kami dapat botol-botol yang banyak aku kasihan liat nenek memikul segitu banyak botol dengan karung goni. Aku merasa aneh dan selalu berkata “Nek nnti kalau aku sudah besar aku yang bawakan botolnya” nenek tersenyum dan berkata “ini tidak berat kok,ini pelastik kok sixma, nenek masih kuat, masih kuat gendong kamu di depan ni” sambil memeluk dan menggendongku, senyum indah dilontarkan nenek di depan wajahku membuat aku merasa terlindungi, dan di sayangi.
Terakhir kali aku ikut bersama nenek memulung saat aku kelas 2 SD umur 7 tahun, saat hari agak mendung, nenek sudah menyuruhku untuk tinggal dirumah dan bermain tetapi aku ingin ikut bersamanya, aku memaksa dan mengikuti nenek dari belakang. Setelah jauh berjalan nenek memanggilku dan memegang tanganku sambil memulung memungut botol-botol, nenek tidak pernah marah,nenek sangat baik, Nenek sosok malaikat dalam hidupku.  Saat kami ingin mengmbil botol-botol di belakang bangunan tua. tempat nongkrong pemuda setempat yang meninggalkan banyak botol-botol di sana, kamu menuju kesana kami melewati terowongan, banguanan-bangunan gelap, dan lembab, karena cuaca yang buruk banyak nyamuk di berkeliaran disana, seluruh tubuhku dgrogoti nyamuk, aku menahankan sakit digigit nyamuk dan tidak mau menangis buat nenek khawatir. Aku memang tidak ada persiapan untuk ikut memulung karena buru-buru mengikuti nenek tidak mau ditinggal, aku tidak pakai baju tangan panjang dan celana panjang. Saat seluruh tubuhku digigit nayamuk aku hanya diam dan mengusir nyamuk itu semampuku, aku tidak mau mengkhawatirkan nenek jadi aku berusaha sendiri untuk mengusir nyamuk-nyamuk yang mengigitku.
Setelah berapa lama di tempat yang gelap itu dan dipenuhi nyamuk aku lemas pusing dan pingsan. Tangan nenek memegang tongkat dan senter nenek terus berjalan, saat nenek melihat ke blakang aku sudah pingsan, nenek menjerit, menjatuhkan semua bawaannya dan bergegas memeluk, menggendongku sambil menangis dan berlari keluar dari tempat itu, Nenek teus-terusan minta tolong agar di beri tumpangan ke rumah sakit, nenek pasti sangat-sangat sedih karena membawa ku kesana, sekujur tubuhku panas dan dipenuhi bentol-bentolan yang awalnya merah berubah menjadi hitam. sampai di IGD Rumah Sakit tubuhku di basahin, di lap, dan dibersihin dengan handuk kecil, mungkin untuk menurunkan demamku yang mencapai 39,5 derjat celcius dan sukurnya aku selamat.
Kejadian yang membuat aku menyesal karena telah membuat nenek ku menagis dan merasa menyesali perbuatannya. Kejadian itu menimbulkan bekas yang dalam, sekeliling rumah kami menggosipin nenek, nenek di bilang gila karena membawaku memulung dan membawa ketempat yang gelap, dan berbagai pandangan buruk tetangga lain pada nenek, bahwa nenek mau membunuhku.
Sentakku marah pada mereka yang menggosip telah menuduh nenek ku sepertiitu, padahal semua adalah kesalahanku, aku berjanji tidak akan membangkang pada nenek lagi, dan akan membuatnya tidak khawatirlagi.
Kini aku masuk rumah sakit lagi aku tidak mau membuat nenek khawatir aku harus segera sembuh dan membantu nenek mencari uang. Aku takut kerjaan aku digantikan oleh orang lain, saat aku masih sekolah SD dulu aku membantu menjualkan beberapa kue dan menjajakannya di sekolah bersama teman-teman ku. Saat aku SMP aku menjual beberapa alat tulis dengan temanku, kemudian aku dapat kerja separuh waktu di warung makan kalau siang habis pulang sekolah, café saat malam hari, dan kadang di minimarket.
Semua kehidupanku memliki keterbatan seperti orang tua ku yang memliki waktu yang terbatas di dunia, seperti penyesalanku yang sudah terlambat, saat aku menjajakan jualan ku waktu SD kadang habis kadang sisa, dan aku takut menhabiskan waktu berbaring disini sampai nenek aku wafat. Aku harus segera bangun aku harus sembuh.
Nek aku merindukanmu…
Jaga kesehatanmu nek…
Jangan sedih…
Tetap bahagia nek…
Aku pengen makan masakan nenek…

Aku sayang nenek…

0 comments:

Post a Comment